Senin, Oktober 12, 2009

Bad News is Good News

Berita mengejutkan datang dari Bone, Sulawesi Selatan. Sebuah ledakan besar terdengar di udara Pallette Kabupaten Bone pekan lalu (08/10). Saking kerasnya suara yang mengguncang itu, kaca-kaca jendela penduduk bergetar meski tidak terjadi gempa. Suaranya menggelegar hingga ke daerah tetangga seperti Kolaka, Sengkang, Sinjai, dan Soppeng.

Meski masih pro-kontra, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) mengklaim bahwa barang yang meledak itu bukan pesawat. Kuat dugaan meteor tunggal.

Keesokan harinya (09/10), terdengar lagi kabar terbaru perburuan teroris kelas wahid negeri ini. Syaifuddin Zuhri dan Syahrir adiknya, yang diyakini sebagai penerus Almarhum Noordin M. Top, dikabarkan tewas di tangan Datasemen 88 Antiteror pada sebuah penggerebekan rumah kos di Ciputat, Tangerang.

Kedua berita itu langsung menghentak adrenalin kita. Oplah koran dan rating TV juga langsung melejit. Bahkan yang jarang baca koran tiba-tiba cari koran dan yang doyan sinetron tiba-tiba pindah channel ke berita. Habit serta merta berubah!

Kondisi labil seperti ini menjadi saat yang tepat menitipkan pesan-pesan promosi ke target konsumen; saat yang tepat melepas tembakan ketika burung-burung menggelantung tanpa arah. Bad news is a good news….

Wajarlah ketika terjadi penggerebekan teroris dan disiarkan live di salah satu TV swasta, iklan-iklan berderet antri tampil di layar kaca. Stephen Tong, salah seorang pendeta pernah berpesan bahwa orang bodohlah yang menyia-nyiakan kesempatan. Orang biasa suka menanti kesempatan. Orang pintar cenderung mencari kesempatan. Orang bijaksana berani menciptakan kesempatan.

Izinkan saya melanjutkan... tim pemasar adalah mereka yang cerdas membaca kesempatan.
Tidak jarang kita saksikan, di tengah puncak konflik sebuah sinetron misalnya, sang artis muncul dengan mobil merek A. Sementara pemeran lain duduk menghisap rokok merek B sambil menyeruput kopi merek C.

Semakin cerdas tim pemasar membaca peluang di balik bad news, semakin mudah pesan-pesan promosi masuk ke target konsumen. Kesempatan yang tersaji di depan mata akan lebih optimal jika diselipkan di tengah-tengah bad news (kesempitan). Seperti kata pepatah Arab bahwa waktu itu bagai pedang. Jika kamu tidak mampu memenggalnya, maka ia memenggalmu.

Kesempatan selalu tersaji, bahkan dalam kesempitan sekalipun! Salah satu trik menyiasati kesempatan promosi adalah menyulap bad news menjadi sebuah good news.***

Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com

Minggu, Oktober 04, 2009

Bermain di Tarikan Permintaan

Hari kemenangan Idul Fitri sudah dua pekan berlalu. Ibarat sebuah mesin, kini kehidupan kembali di-restart. Hari Fitri menjadi saksi kesucian kembali dengan saling menjulur tangan dan memaafkan.

Pesta pasar juga sudah berlalu. Harga-harga yang terkerek sejak awal Ramadhan telah mencapai puncaknya. Kini, ia memasuki masa pemulihan. Saat hati sudah menyatu dan kita semua kembali ke aktivitas, harga-harga juga berfitrah dan harga kembali ke titik normal.

Harga-harga lazimnya mengalami kenaikan sejak awal Ramadhan hingga saat keluarnya THR. Dalam kasus pemasaran dikenal 2 (dua) penyebab terjadinya inflasi, yaitu Cost Push Inflation dan Demand Pull Inflation. Harga barang-barang di pasar mengalami kenaikan hanya karena salah satu dari kedua kemungkinan itu. Jika bukan karena didorong (push), pasti karena ditarik (pull).

Cost Push Inflation adalah kenaikan harga yang diakibatkan oleh dorongan harga bahan baku. Contoh sederhana, harga ikan bakar di Jakarta lebih mahal dibanding di kota ini karena harga bahan baku yang juga mahal di sana. Ikan segar didatangkan dari Makassar, arang dari Kendari, garam dari Madura, cabe dari Padang, dan seterusnya. Komponen bahan baku ikan bakar yang serba didatangkan dari luar pulau ini “mendorong” naiknya harga jual barang jadi bernama ikan bakar.

Demand Pull Inflation adalah kenaikan harga yang diakibatkan oleh tarikan permintaan. Terigu, mentega, telur, dan lainnya cenderung lebih mahal menjelang Idul Fitri dibanding hari-hari biasa. Kenaikan harga ini dipicu oleh permintaan pasar yang berlangsung serentak di seluruh penjuru negeri. Keterbatasan jumlah produksi tidak berbanding lurus dengan tingginya kebutuhan sehingga harga di tingkat pasar “ditarik” oleh dahsyatnya permintaan.

Naiknya harga-harga menjelang lebaran lebih dikarenakan oleh opsi kedua, yaitu Demand Pull Inflation. Tidak ada kekuatan yang mampu menahan laju kenaikan harga dalam kondisi seperti itu. Meski pemerintah sudah menggariskan HET (Harga Eceran Tertinggi), namun tampaknya hukum pasar lebih kuat menarik harga ke atas daripada hukum negara yang menekan harga ke bawah.

Demikian juga terjadi di property. Harga tanah dan rumah selalu merambat naik karena kebutuhan tempat tinggal terus meningkat setiap tahun. Akibatnya, harga property tertarik ke atas dan menjadilah harganya terus naik setiap tahun.

Mungkin karena kenaikan harga yang terus merangkak itu, cepat-cepat Robert Kiyosaki, pengarang buku Rich Dad Poor Dad pernah mengingatkan bahwa untuk mencapai untung besar di hari esok, investasi paling aman adalah rumah dan tanah. Kedua barang itu sangat dekat dengan tarikan permintaan***

Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com