Hari-hari terakhir, mungkin saja pejabat-pejabat negara tidak ingin mematikan ponselnya karena khawatir ditelepon Presiden untuk sebuah tugas suci di kabinet mendatang.
Menjadi sebuah kebanggan jika berhasil terpilih sebagai pembantu presiden untuk masa bakti lima tahun ke depan; yang selama ini menjadi idaman jutaan orang.
Customer is King kembali berlaku. Presiden ibarat pelanggan yang memilih-milih produk. Para calon menteri ibarat produk yang dijejer di etalase. Siapa yang paling menarik, dialah akan terpilih.
Sebagai pelanggan, sang Presiden tentu saja memilih produk berkualitas, produk yang tidak cacat, dan produk yang kualitas brand-nya sudah dikenal. Khusus produk-produk yang tidak pernah mengecewakan sang pelanggan, akan di-repeat order untuk masa pemakaian lima tahun lagi.
Agar mudah diingat di benak konsumen (sang Presiden), produk diharapkan punya nilai lebih. Dia seharusnya tidak seperti produk-produk kebanyakan yang hanya tamatan S1, mengerti komputer, secuil bahasa asing, dan bisa bicara. Produk yang dilirik adalah jebolan dari mesin canggih bersertifikat dan higienis, alumni S2 luar negeri, kuasai perkembangan teknologi, lancar bahasa Inggris, dan punya kemampuan negosiasi.
Saatnya pelanggan berkuasa! Saatnya pembeli unjuk gigi! Saatnya sang Raja menduduki tahta kekuasaan bernama keleluasaan memilih produk berkualitas!
Dalam kapasitas sebagai produk, ia seharusnya tidak sekadar "duduk manis menunggu telepon". Produk juga perlu pro-aktif unjuk sebuah kekuatan nilai jual; mulai kemasan, brand, hingga after sales values.
Pekan lalu, saya berkunjung ke Candi Borobudur di Jawa Tengah. Meski candi itu tidak lagi dikategorikan keajaiban dunia sejak tahun lalu, pengunjung tetap saja ramai. Juga penjual tetap saja padat.
Sadar akan tingginya kompetisi antar pedagang, mereka tidak ingin berlama-lama menunggu panggilan sang Raja (pengunjung). Justru pedagang yang membaca "mata" calon pembeli. Ketika dilihatnya sedang menjejalkan pandangan, pedagang langsung mendekat dan menawarkan barangnya; mulai souvenir hingga jasa pemotretan.
Pro-aktif, salah satu kunci keberhasilan tim pemasar. Dalam kapasitas sebagai Raja, pelanggan tidak punya cukup waktu mencermati produk-produk berkualitas. Sang Raja hanya mengetahui dari brand image yang ditanam selama bertahun-tahun dan informasi-informasi para pembisik (word of mouth marketing).***
Dimuat di Harian Kendari Pos, 19 Oktober 2009
Saran : 0815 2400 4567
Selasa, Oktober 20, 2009
Senin, Oktober 12, 2009
Bad News is Good News
Berita mengejutkan datang dari Bone, Sulawesi Selatan. Sebuah ledakan besar terdengar di udara Pallette Kabupaten Bone pekan lalu (08/10). Saking kerasnya suara yang mengguncang itu, kaca-kaca jendela penduduk bergetar meski tidak terjadi gempa. Suaranya menggelegar hingga ke daerah tetangga seperti Kolaka, Sengkang, Sinjai, dan Soppeng.
Meski masih pro-kontra, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) mengklaim bahwa barang yang meledak itu bukan pesawat. Kuat dugaan meteor tunggal.
Keesokan harinya (09/10), terdengar lagi kabar terbaru perburuan teroris kelas wahid negeri ini. Syaifuddin Zuhri dan Syahrir adiknya, yang diyakini sebagai penerus Almarhum Noordin M. Top, dikabarkan tewas di tangan Datasemen 88 Antiteror pada sebuah penggerebekan rumah kos di Ciputat, Tangerang.
Kedua berita itu langsung menghentak adrenalin kita. Oplah koran dan rating TV juga langsung melejit. Bahkan yang jarang baca koran tiba-tiba cari koran dan yang doyan sinetron tiba-tiba pindah channel ke berita. Habit serta merta berubah!
Kondisi labil seperti ini menjadi saat yang tepat menitipkan pesan-pesan promosi ke target konsumen; saat yang tepat melepas tembakan ketika burung-burung menggelantung tanpa arah. Bad news is a good news….
Wajarlah ketika terjadi penggerebekan teroris dan disiarkan live di salah satu TV swasta, iklan-iklan berderet antri tampil di layar kaca. Stephen Tong, salah seorang pendeta pernah berpesan bahwa orang bodohlah yang menyia-nyiakan kesempatan. Orang biasa suka menanti kesempatan. Orang pintar cenderung mencari kesempatan. Orang bijaksana berani menciptakan kesempatan.
Izinkan saya melanjutkan... tim pemasar adalah mereka yang cerdas membaca kesempatan.
Tidak jarang kita saksikan, di tengah puncak konflik sebuah sinetron misalnya, sang artis muncul dengan mobil merek A. Sementara pemeran lain duduk menghisap rokok merek B sambil menyeruput kopi merek C.
Semakin cerdas tim pemasar membaca peluang di balik bad news, semakin mudah pesan-pesan promosi masuk ke target konsumen. Kesempatan yang tersaji di depan mata akan lebih optimal jika diselipkan di tengah-tengah bad news (kesempitan). Seperti kata pepatah Arab bahwa waktu itu bagai pedang. Jika kamu tidak mampu memenggalnya, maka ia memenggalmu.
Kesempatan selalu tersaji, bahkan dalam kesempitan sekalipun! Salah satu trik menyiasati kesempatan promosi adalah menyulap bad news menjadi sebuah good news.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Meski masih pro-kontra, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) mengklaim bahwa barang yang meledak itu bukan pesawat. Kuat dugaan meteor tunggal.
Keesokan harinya (09/10), terdengar lagi kabar terbaru perburuan teroris kelas wahid negeri ini. Syaifuddin Zuhri dan Syahrir adiknya, yang diyakini sebagai penerus Almarhum Noordin M. Top, dikabarkan tewas di tangan Datasemen 88 Antiteror pada sebuah penggerebekan rumah kos di Ciputat, Tangerang.
Kedua berita itu langsung menghentak adrenalin kita. Oplah koran dan rating TV juga langsung melejit. Bahkan yang jarang baca koran tiba-tiba cari koran dan yang doyan sinetron tiba-tiba pindah channel ke berita. Habit serta merta berubah!
Kondisi labil seperti ini menjadi saat yang tepat menitipkan pesan-pesan promosi ke target konsumen; saat yang tepat melepas tembakan ketika burung-burung menggelantung tanpa arah. Bad news is a good news….
Wajarlah ketika terjadi penggerebekan teroris dan disiarkan live di salah satu TV swasta, iklan-iklan berderet antri tampil di layar kaca. Stephen Tong, salah seorang pendeta pernah berpesan bahwa orang bodohlah yang menyia-nyiakan kesempatan. Orang biasa suka menanti kesempatan. Orang pintar cenderung mencari kesempatan. Orang bijaksana berani menciptakan kesempatan.
Izinkan saya melanjutkan... tim pemasar adalah mereka yang cerdas membaca kesempatan.
Tidak jarang kita saksikan, di tengah puncak konflik sebuah sinetron misalnya, sang artis muncul dengan mobil merek A. Sementara pemeran lain duduk menghisap rokok merek B sambil menyeruput kopi merek C.
Semakin cerdas tim pemasar membaca peluang di balik bad news, semakin mudah pesan-pesan promosi masuk ke target konsumen. Kesempatan yang tersaji di depan mata akan lebih optimal jika diselipkan di tengah-tengah bad news (kesempitan). Seperti kata pepatah Arab bahwa waktu itu bagai pedang. Jika kamu tidak mampu memenggalnya, maka ia memenggalmu.
Kesempatan selalu tersaji, bahkan dalam kesempitan sekalipun! Salah satu trik menyiasati kesempatan promosi adalah menyulap bad news menjadi sebuah good news.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)