Kasus demi kasus yang ditangani KPK setahun terakhir makin menarik dicermati. Beberapa kasus di antaranya: kasus Gayus Tambunan, kasus M. Nazaruddin, kasus Anglina Sondakh, dan banyak lagi.
Ketika sebuah kasus sulit dibuktikan, ditempulah salah satu metode pembuktian terbalik. Cara ini dianggap cukup ampuh ”memaksa” pengakuan terdakwa untuk mengakui perbuatannya.
Contoh sederhana, seorang koruptor seharusnya mengakui korupsi yang dituduhkan kepadanya karena hukum sebab – akibat: karena saya korupsi, maka saya kaya. Karena saya makan, maka saya kenyang. Begitulah kira-kira.
Pada pada kondisi tertentu, terdakwa tidak ingin mengakui bahwa dia baru saja makan nasi sehingga kenyang. Karena dirasa sulit mengungkap pengakuan, maka dilakukanlah pembuktian terbalik dengan memutar balik arah pertanyaan: kenapa Anda kenyang?
Bukan lagi mengedepankan sebab tetapi mendahulukan akibat. Karena ada akibat, pasti ada sebab. Karena Anda kenyang, maka pasti Anda habis makan.
Dalam kasus-kasus pemasaran juga terjadi demikian. Ketika kompetisi sudah semakin crowded dan arah pasar semakin sulit ditebak, maka juga dilakukan pembuktian terbalik. Biasanya, pembuktian terbalik dilakukan, pasar akan langsung merespon dengan cepat.
Kita tentu saja masih ingat sepuluh tahun lalu jika berhutang itu dianggap kurang baik dalam kultur ketimuran karena menujukkan ketidakmampuan membiayai hidup sehari-hari. Hal itu tidak lagi terjadi saat ini.
Profesional muda di ibukota nyaris tidak pernah luput dari berbagai tawaran hutang dengan kemasan berbeda-beda. Mulai kemasan halus (soft cover) ala KPR hingga cara nekat (hard cover) gaya Kredit Tanpa Agunan, tumplek plek menjadi santapan harian.
Perbankan semakin agresif menawarkan hutang ke calon nasabah meskipun dalam penawaran mereka sesungguhnya terdapat risiko yang sangat besar. Ketika kartu kredit diterbitkan, risiko sudah mulai ditabur. Ketika nasabah menunggak, risiko mulai dituai. Begitulah seterusnya....
Secara naluri, pihak perbankan tentu saja was-was ketika menerbitkan kartu kredit. Namun karena pasar yang ingin digarap sudah semakin kompetitif dan peluang mengeruk keuntungan semakin kecil, maka ditempulah cara-cara yang out of the box: kartu hutang (kartu kredit) ditebar, penawaran tanpa agunan dihambur, pemberian cash back digenjot.
Apa yang dilakukan para penerbit kartu kredit merupakan penjabaran dari pembuktian terbalik. Karena saya akan punya uang maka saya bisa berhutang, begitu hukum sebab - akibatnya. Kondisi itu kemudian dibalik dengan mengedepankan akibat menjadi ”berhutanglah karena Anda akan punya uang untuk bayar kelak”.
Sekitar tahun 2001, salah bank besar pemerintah juga pernah menerapkan strategi ini dengan memberikan hadiah kepada nasabah yang melakukan penarikan terbesar di ATM. Yang diberikan hadiah bukan tabungan terbanyak tetapi penarikan terbesar.
Logikanya sederhana. Penarikan dapat dilakukan jika ada dana dalam tabungan. Penarikan dalam jumlah besar dapat dilakukan jika dana dalam tabungan juga besar. Memancing hadiah di sisi penarikan berarti mendorong nasabah menambah isi tabungan.
Jurus seperti itu kembali terngiang. Pembuktian terbalik tidak hanya dijalankan di pengadilan tetapi juga di dunia pemasaran. Pertanyaan”Sudahkah Anda makan nasi pagi ini?” mulai terdengar usang. Saatnya kita ganti dengan yang lebih sakti ”Kelihatannya Anda kenyang sekali. Makan apa pagi tadi?”
Dengan mengedepankan akibat, maka jawaban pertanyaan (sebab hal itu terjadi) akan keluar. Pembuktian terbalik tampak lebih sakti.***
Saran dan kritik: 081524004567.
Minggu, Maret 18, 2012
Minggu, Maret 04, 2012
Ketika Toyota Mengasah Jadda
Film Negeri 5 Menara serentak tayang di seluruh Indonesia pekan lalu. Film Indonesia yang diangkat dari novel dengan judul yang sama itu, melakukan pengambilan gambar selama 40 hari di 4 tempat (Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Danau Maninjau Sumatera Barat, Bandung, London). Film itu mengusung filosofi Islam berbunyi man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses.
Filosofi itu pada kenyataannya memang banyak digaungkan ke dalam jiwa santri-santri pondok di se-antero nusantara. Setiap anak santri di pondok mana pun di negeri ini mengerti betul makna di balik kalimat man jadda wajada. Harapannya, setiap santri kelak akan selalu berbuat yang terbaik dan fokus mencapai mahligai sukses setelah mengayuh roda jadda demi jadda di setiap dentang waktu.
Banyak pembelajaran diteteskan dari film ini yang dapat kita petik dan relevan dijalankan dalam keseharian. Pada skop lebih besar, jadda atau kesungguhan merupakan modal utama kita ketika berinteraksi dengan waktu. Semakin besar jadda yang kita investasikan, semakin cepat pula waktu itu menyajikan keberhasilan di hadapan kita.
Jika kemudian ditarik ke kasus-kasus pemasaran, kita pun menyaksikan deretan panjang perusahaan sukses yang berasal dari kristalisasi jadda selama puluhan tahun. Fase jadda merupakan fase kritis yang membutuhkan cucuran keringat, bauran pemikiran, juga tetesan air mata.
Di dalam jadda, lebih banyak duka yang menyambut dibandingkan suka yang tersaji. Penjualan menurun karena ulah distributor misalnya, itu salah satu mata rantai jadda yang menuntut vitamin jadda yang lebih banyak lagi agar perjuangan dapat membuahkan keberhasilan.
Semakin banyak pulau kecil jadda yang dilewati sebuah produk, akan semakin matang pula produk itu ketika bersanding di medan tempur. Hambatan-hambatan jadda di sepanjang perjalanan merupakan proses pembentukan jati diri produk dalam meraih mihrab suksesnya.
Banyak buku membahas Cara Cepat Jadi Kaya, Jalan Pintas Naik Pangkat, Manager Satu Menit, dll. Namun hal itu tidak dikenal di perjalanan karir sebuah produk. Produk mengalami fase-fase yang sangat kompleks sebagaimana manusia mengalami 4 runutan fase dari bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa.
Dalam produk dikenal istilah PLC (Product Life Cycle) yang menerangkan bahwa setiap produk mengalami pola hidup yang bersiklus. Sebagaimana film Negeri 5 Menara yang pengambilan gambarnya dilakukan di 4 tempat dan manusia mengalami 4 tahap kehidupan, maka produk pun memiliki 4 siklus, yaitu: Introduction (Perkenalan), Growing (Pertumbuhan), Maturity (Kedewasaan), dan Declining (Penurunan).
Tidak ada produk instant di dunia ini, yang begitu diluncurkan langsung laku keras. Itu hanya ada dalam mimpi!
Lalu, bagaimana dengan produk Anda? Saat ini berada di siklus mana?
Jika sudah berada di siklus Maturity, hal yang perlu segera dilakukan untuk “menunda” perjalanan ke siklus paling ganas (declining) adalah menciptakan varian produk. Dengan begitu, pasar menjadi tidak jenuh.
Contoh paling dekat kita cermati adalah strategi Toyota meluncurkan Avanza Veloz akhir tahun lalu sebagai upaya untuk tetap mempertahankan kepemimpinan Avanza di pasar MPV (Multi Purpose Vehicle). Dengan varian Veloz, pasar kembali tersaji menu masakan baru racikan Toyota sekaligus sebagai upaya “menunda” putaran PLC ke fase declining.
Strategi ini juga bagian dari perjuangan jadda sang pemimpin pasar. Ternyata, orang Jepang sekelas Toyota pun mengasah jadda-nya di pasar Indonesia.***
Filosofi itu pada kenyataannya memang banyak digaungkan ke dalam jiwa santri-santri pondok di se-antero nusantara. Setiap anak santri di pondok mana pun di negeri ini mengerti betul makna di balik kalimat man jadda wajada. Harapannya, setiap santri kelak akan selalu berbuat yang terbaik dan fokus mencapai mahligai sukses setelah mengayuh roda jadda demi jadda di setiap dentang waktu.
Banyak pembelajaran diteteskan dari film ini yang dapat kita petik dan relevan dijalankan dalam keseharian. Pada skop lebih besar, jadda atau kesungguhan merupakan modal utama kita ketika berinteraksi dengan waktu. Semakin besar jadda yang kita investasikan, semakin cepat pula waktu itu menyajikan keberhasilan di hadapan kita.
Jika kemudian ditarik ke kasus-kasus pemasaran, kita pun menyaksikan deretan panjang perusahaan sukses yang berasal dari kristalisasi jadda selama puluhan tahun. Fase jadda merupakan fase kritis yang membutuhkan cucuran keringat, bauran pemikiran, juga tetesan air mata.
Di dalam jadda, lebih banyak duka yang menyambut dibandingkan suka yang tersaji. Penjualan menurun karena ulah distributor misalnya, itu salah satu mata rantai jadda yang menuntut vitamin jadda yang lebih banyak lagi agar perjuangan dapat membuahkan keberhasilan.
Semakin banyak pulau kecil jadda yang dilewati sebuah produk, akan semakin matang pula produk itu ketika bersanding di medan tempur. Hambatan-hambatan jadda di sepanjang perjalanan merupakan proses pembentukan jati diri produk dalam meraih mihrab suksesnya.
Banyak buku membahas Cara Cepat Jadi Kaya, Jalan Pintas Naik Pangkat, Manager Satu Menit, dll. Namun hal itu tidak dikenal di perjalanan karir sebuah produk. Produk mengalami fase-fase yang sangat kompleks sebagaimana manusia mengalami 4 runutan fase dari bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa.
Dalam produk dikenal istilah PLC (Product Life Cycle) yang menerangkan bahwa setiap produk mengalami pola hidup yang bersiklus. Sebagaimana film Negeri 5 Menara yang pengambilan gambarnya dilakukan di 4 tempat dan manusia mengalami 4 tahap kehidupan, maka produk pun memiliki 4 siklus, yaitu: Introduction (Perkenalan), Growing (Pertumbuhan), Maturity (Kedewasaan), dan Declining (Penurunan).
Tidak ada produk instant di dunia ini, yang begitu diluncurkan langsung laku keras. Itu hanya ada dalam mimpi!
Lalu, bagaimana dengan produk Anda? Saat ini berada di siklus mana?
Jika sudah berada di siklus Maturity, hal yang perlu segera dilakukan untuk “menunda” perjalanan ke siklus paling ganas (declining) adalah menciptakan varian produk. Dengan begitu, pasar menjadi tidak jenuh.
Contoh paling dekat kita cermati adalah strategi Toyota meluncurkan Avanza Veloz akhir tahun lalu sebagai upaya untuk tetap mempertahankan kepemimpinan Avanza di pasar MPV (Multi Purpose Vehicle). Dengan varian Veloz, pasar kembali tersaji menu masakan baru racikan Toyota sekaligus sebagai upaya “menunda” putaran PLC ke fase declining.
Strategi ini juga bagian dari perjuangan jadda sang pemimpin pasar. Ternyata, orang Jepang sekelas Toyota pun mengasah jadda-nya di pasar Indonesia.***
Langganan:
Postingan (Atom)