Minggu, November 30, 2008

People Contact

Terus berbenah! Sepotong kata itu lebih tepat disandingkan pada Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Daerah pemerintahan yang usianya belum menginjak lima tahun itu, di awal Desember ini menggelar gawean berskala internasional, mulai pameran hingga seminar.

Daerah baru dibawah kemudi Hugua ini, tidak henti-hentinya memperkenalkan diri ke pasar dunia, mengusung konsep pariwisata. Bermodalkan terumbu karang cantik di dasar laut, daerah itu berani tampil dengan positioning ”Surga Nyata Bawah Laut”.

Untuk berkunjung ke daerah itu, memang membutuhkan ”perjuangan dan doa”. Saya sendiri berkunjung ke daerah itu tujuh bulan lalu dengan pengalaman tak terlupakan. Perjalanan yang seharusnya ditempuh hanya lima jam dengan speedboat dinas Bupati Wakatobi yang dipinjamkan, namun karena gelombang laut yang tak dapat dihalau, perjalanan menghabiskan waktu hingga dua puluh lima jam. Itu pun, sudah dilengkapi proses ”terdampar” semalam di pulau kecil, Ereke.

Dengan pengorbanan waktu yang tidak sedikit untuk berkunjung ke daerah itu, Wakatobi tidak pernah putus harapan. Terbukti, kalangan pejabat hingga artis sudah menginjakkan kaki dan menikmati keindahan alam bawah laut Wakatobi. Bahkan tanpa pikir panjang, Wakatobi juga menjadikan Nadine Chandrawinata sebagai endorser-nya.

Dalam memperkenalkan dunia wisata, perlu diingat bahwa sesungguhnya kita sedang ”menjual” keindahan alam ke mata dunia. Alam itu benda mati, tak dapat berbicara, dan tak dapat merespon. Yang membuatnya hidup adalah manusia di sekitarnya. Makanya, kondisi seperti ini lazim disebut menjual jasa.

Hal yang sama terjadi di penerbangan, perbankan, perhotelan, telekomunikasi, dan lainnya. Penerbangan menjual tiket dan menerbangkan manusia dari satu bandara ke bandara lain. Mulai tiket, bandara, kursi pesawat, ruang kedatangan, hingga bagasi, semuanya benda mati. Yang membuatnya ”hidup” adalah manusia di belakang benda-benda itu.

Ikan dan terumbu karang memang cantik sebagaimana bandara dan pesawat selalu tampak canggih. Namun kecantikan dan kecanggihan tidaklah cukup tanpa polesan people contact (senyum, ramah tamah, helpful, basa-basi, dan sederet lainnya).

Di sinilah sesungguhnya benang merah jualan jasa. Apapun yang kita jual, kunci keberhasilan ada pada manusianya. Wakatobi, Toraja, Manado, Lombok, Jogja, Bali dan daerah lain yang mengusung konsep pariwisata sebagai dagangan utamanya perlu menyadari ini. Bahwa keindahan alam yang benda mati itu akan menjadi hidup jika didukung people contact yang baik.***

Minggu, November 23, 2008

Laskar-laskar Pemasar

Film Laskar Pelangi (LP) baru saja beredar beberapa pekan terakhir. Menurut sejumlah penikmat film Indonesia, Laskar Pelangi hasil sentuhan Riri Riza diprediksi akan menyusul kesuksesan film Ayat-ayat Cinta (AAC). Meski masih sebatas prediksi namun hampir dapat dipastikan dugaan itu akan benar. Respon masyarakat terhadap film itu sudah terlihat sejak proses produksi hingga masa penayangan.

Pembicaraan hangat terus menyebar melalui berbagai media interaksi (social network) sebangsa Yahoo Messager, Facebook, Blog, Email, dll. Berkat jejaring sosial yang disajikan oleh internet, komunikasi langsung dapat terjadi ke jutaan orang sekaligus dalam hitungan detik.

Dulu, kita mengenal istilah arisan, kelompok belajar, karang taruna, dan sederet sarana interaksi lainnya. Saat ini, media-media itu sudah bergeser ke dunia maya --sebuah dunia yang menghubungkan manusia tanpa batas negara, tak melihat warna kulit, dan juga tidak kenal batasan umur.

Kabarnya, kesuksesan film AAC beberapa bulan lalu turut dikontribusi oleh jejaring sosial seperti ini. Ketika seseorang yang baru saja menonton filmnya, masih dalam suasana haru, menulis pengalaman menontonnya ke dalam blog ataupun email. Lalu dikirim ke teman-temannya, selanjutnya cerita itu berantai hingga ribuan orang tertarik menontonnya.

Di sini terlihat betapa digdayanya sebuah kekuatan jejaring sosial yang (sebenarnya hanya) karena seseorang saja terharu lalu menyebar bagai virus ke ribuan komputer dengan cepat. Tampak pula, betapa tulusnya penonton yang secara tidak sadar menjadi laskar-laskar pemasar yang dalam kasus pemasaran lazim disebut metode Viral Marketing.

Secara teori dipahami bahwa Viral Marketing adalah metode penyampaian informasi menarik dan menghibur secara cepat ke jutaan manusia melalui jejaring sosial (creating interesting and entertaining messages that spread exponentially, usually trough methods such as the web to large numbers of people).

Sadar dengan kekuatan Viral Marketing ini, tidak sedikit perusahaan mulai menggeser perhatiannya ke pemanjaan komunitas ini dengan mendengar keluhannya dan mengobati kekecewaannya. Dengan Viral Marketing, pelanggan bisa menjadi laskar yang baik sekaligus laskar yang buruk. Jika senang, maka ia akan bercerita baik pada jejaring sosialnya. Ketika dikecewakan, ia akan melakukan hal sebaliknya.

Jalur ini sudah sepatutnya diwaspadai sejak dini. Ibarat lalu lintas kendaraan, jejaring sosial yang satu ini sudah menjadi jalur alternatif di mana arus kendaraan cenderung dialihkan ke arah itu karena diyakini lebih efisien. Selamat datang di alam maya. Selamat datang laskar-laskar pemasar!***

Saran SMS: 0815 2400 4567