Awal bulan ini saya baru saja melakukan perjalanan ibadah. Dengan Garuda Indonesia, perjalanan panjang cukup melelahkan dari Jakarta ke Jeddah dapat ditempuh dengan baik sembilan jam non stop.
Mayoritas penumpang pesawat itu bertujuan ibadah. Rasanya, hanya segelintir saja tujuan bisnis. Sepanjang perjalanan melintasi benua, pesawat berbadan lebar berlantai dua Boeing 747-400 yang menerbangkan kami itu tampak sangat gagah di udara dengan 428 seat.
Agak sedikit berbeda dibanding penerbangan domestik. Kali ini, pramugarinya serentak berbalut jilbab, greeting pengumuman diawali salam lekum, juga tayangan-tayangan informasi di layar TV lebih bernuansa religi: penumpang dituntun bacaan doa sebelum berangkat, doa ketika mendarat, cara shalat duduk di pesawat, dikumandangkan suara adzan saat tiba waktu shalat, dan banyak lagi.
Pihak Garuda rupanya tahu memposisikan diri sedang menuju ke mana, menerbangkan siapa, untuk tujuan apa. Informasi dan cara penyajian disesuaikan kondisi pasarnya saat itu. Perlakuan khusus di jalur khusus ini memberikan nilai tambah yang juga bernilai khusus di benak konsumen.
Selaku konsumen, sesungguhnya dalam keseharian kita selalu dijejali ribuan informasi yang malang melintang melalui iklan TV, radio, baliho, poster, hingga selebaran. Selaku konsumen, kita tidak punya cukup waktu menyeleksi informasi mana yang benar dan salah. Kita juga tidak punya cukup memori mengingat semua informasi yang dilihat dan didengar mulai bangun tidur hingga tidur kembali.
Untuk itu, agar iklan yang disampaikan tepat sasaran perlu disesuaikan dengan pasar yang dituju. Dalam penyebaran informasi dikenal istilah garbage alias sampah. Agar informasi yang disampaikan dapat tertanam di benak konsumen, sepatutnya menghindari informasi mengambang yang hanya mampir centang perenang di benak konsumen lalu akhirnya lenyap dan jadi garbage.
Tempatkan informasi sesuai kebutuhan konsumen. Masuklah melalui bahasa mereka, perilaku mereka, adat budaya mereka. Pemasaran tidak butuh bahasa rumit. Lebih singkat, lebih padat, lebih jelas justru lebih baik.
Sadarkah kita, jutaan informasi berserakan di sekitaran konsumen yang telah dibayar mahal namun akhirnya menjadi garbage. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Garbage In, Garbage Out! Itulah si GIGO!
Garuda Indonesia tahu betul menghindar dari jebakan GIGO. Ia menempatkan informasi dan cara penyajian sesuai kebutuhan pasarnya agar biaya promosi dan komunikasi tidak terbuang percuma.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com/
Dimuat di Harian Kendari Pos, 18 Mei 2009
Minggu, Mei 17, 2009
Minggu, April 26, 2009
Rumah Kemasan
Puluhan stand hadir di pameran akbar yang sedang berlangsung di lapangan MTQ kota Kendari. Penasaran mau melihat apa yang terjadi di pameran itu, saya pun meluangkan waktu seharian berkeliling dari satu stand ke stand lain akhir pekan lalu.
Di stand Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Tenggara, bertengger mesin ukuran medium dengan tulisan di atasnya: Rumah Kemasan. Stand ini ingin menunjukkan proses pengemasan yang higienis, modis, dan sophisticated. Mesin kemas disiapkan untuk memfasilitasi usaha kecil menengah agar belajar melakukan packaging (pengemasan) yang baik.
Makanan sederhana, jika dikemas dengan cantik akan meningkatkan nilai jual. Makanan ringan sebangsa Chiki, Oreo, Taro, Kacang Garuda, bernilai jual tinggi karena packaging-nya yang cantik. Sementara produk lokal seperti Bagea, Tenteng, Terasi, Mete masih bernilai jual rendah karena packaging-nya yang tidak cantik.
Mayoritas pelanggan membeli produk karena melihat kemasan, bukan melihat isinya. Meski pelanggan tahu bahwa isi (content) lebih penting daripada kemasan (context), tetapi saat terjadi transaksi di pasar justru terjadi sebaliknya. Hiruk pikuk pasar seakan ”memaksa” keputusan pelanggan berbelanja karena kemasannya. Penghuni bumi ini secara tidak sadar, sedang hidup di sebuah rumah kemasan.
Apa hebatnya Singapura di banding Indonesia?
Ia tidak punya sumber daya alam seperti Bombana. Negaranya se-upil lebih kecil dari daratan Sulawesi Tenggara. Penduduknya se-ujung kuku, lebih sedikit dari penduduk Sulawesi Selatan. Ia dikenal bukan karena aspal, emas, mete (content) tetapi karena pelayanan primanya (context). Singapore Airlines bahkan membelalakkan mata dunia sebagai the best airlines services in the world.
Apa kelebihan Manado dibanding kota kita?
Pekan lalu saya berkunjung ke Manado. Kotanya yang maju pesat dengan bertaburnya hotel menjulang itu mendapat pengakuan dunia sebagai tuan rumah WOC (World Ocean Conference) bulan depan. Ia juga dikenal dengan 3 B (Bunaken, Bubur, dan Bibir). Hallaakh… jadi ngawur
Apa kelebihan Caleg terpilih dan Caleg tak terpilih?
Pesta demokrasi awal bulan ini sudah mulai melahirkan nama-nama yang lolos seleksi. Kenapa mereka terpilih? Apa yang menggoda masyarakat memilihnya? Bagaimana cara dia meraup suara sebanyak-banyaknya?
Singapura, Manado, dan Caleg menjadi lirikan manusia sekali lagi bukan semata karena ”isinya” tetapi karena ”kemasannya”. Yeah.... kita hidup di rumah kemasan. Siapa yang cerdas membuat kemasan, dialah calon pemenang pasar.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Di stand Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Tenggara, bertengger mesin ukuran medium dengan tulisan di atasnya: Rumah Kemasan. Stand ini ingin menunjukkan proses pengemasan yang higienis, modis, dan sophisticated. Mesin kemas disiapkan untuk memfasilitasi usaha kecil menengah agar belajar melakukan packaging (pengemasan) yang baik.
Makanan sederhana, jika dikemas dengan cantik akan meningkatkan nilai jual. Makanan ringan sebangsa Chiki, Oreo, Taro, Kacang Garuda, bernilai jual tinggi karena packaging-nya yang cantik. Sementara produk lokal seperti Bagea, Tenteng, Terasi, Mete masih bernilai jual rendah karena packaging-nya yang tidak cantik.
Mayoritas pelanggan membeli produk karena melihat kemasan, bukan melihat isinya. Meski pelanggan tahu bahwa isi (content) lebih penting daripada kemasan (context), tetapi saat terjadi transaksi di pasar justru terjadi sebaliknya. Hiruk pikuk pasar seakan ”memaksa” keputusan pelanggan berbelanja karena kemasannya. Penghuni bumi ini secara tidak sadar, sedang hidup di sebuah rumah kemasan.
Apa hebatnya Singapura di banding Indonesia?
Ia tidak punya sumber daya alam seperti Bombana. Negaranya se-upil lebih kecil dari daratan Sulawesi Tenggara. Penduduknya se-ujung kuku, lebih sedikit dari penduduk Sulawesi Selatan. Ia dikenal bukan karena aspal, emas, mete (content) tetapi karena pelayanan primanya (context). Singapore Airlines bahkan membelalakkan mata dunia sebagai the best airlines services in the world.
Apa kelebihan Manado dibanding kota kita?
Pekan lalu saya berkunjung ke Manado. Kotanya yang maju pesat dengan bertaburnya hotel menjulang itu mendapat pengakuan dunia sebagai tuan rumah WOC (World Ocean Conference) bulan depan. Ia juga dikenal dengan 3 B (Bunaken, Bubur, dan Bibir). Hallaakh… jadi ngawur
Apa kelebihan Caleg terpilih dan Caleg tak terpilih?
Pesta demokrasi awal bulan ini sudah mulai melahirkan nama-nama yang lolos seleksi. Kenapa mereka terpilih? Apa yang menggoda masyarakat memilihnya? Bagaimana cara dia meraup suara sebanyak-banyaknya?
Singapura, Manado, dan Caleg menjadi lirikan manusia sekali lagi bukan semata karena ”isinya” tetapi karena ”kemasannya”. Yeah.... kita hidup di rumah kemasan. Siapa yang cerdas membuat kemasan, dialah calon pemenang pasar.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)