Sebenarnya, ulasan ini lebih mengarah ke investasi masa depan dibanding persoalan pemasaran. Tulisan ini sengaja diangkat untuk menjawab permintaan pembaca yang masuk ke saya beberapa hari lalu agar mengulas sisi lain dunia investasi yang dikhususkan bagi pasangan baru menikah. Meski demikian, tulisan berikutnya akan kembali ke khittah-nya pada kasus-kasus pemasaran.
Dalam keseharian kita, sejak bangun tidur hingga tidur kembali, selalu ada dua sisi mata uang: kalau bukan untung, pasti buntung. That’s it!
Sebulan terakhir, kejadian gempa sangat akrab terdengar di telinga kita. Peristiwa yang memporakporandakan Aceh enam tahun silam, akhir bulan lalu juga mengguncang Sumatera Barat. Menyusul gempa-gempa kecil di Manokwari, Sukabumi, Saumlaki Maluku, dan lainnya.
Selain gempa, keseharian kita memang selalu dalam ancaman. Lihatlah bagaimana rumah bisa terancam kebakaran, kendaraan terancam kecelakaan, anak-anak terancam sakit, pekerjaan terancam PHK, dan lainnya.
Setiap gerak kita selalu ada sisi suka dan sisi duka. Jika untung, hidup kita hari ini menari di atas pentas suka. Jika buntung, maka hidup kita sedang murung di atas trotoar duka. Gempa, kebakaran, kecelakaan, penyakit, PHK, terus membayang-bayangi risiko hidup kita.
Sebagai pasangan rumah tangga yang baru menikah, ketenangan hidup jangka panjang selalu menjadi agenda penting. Kebutuhan utama sandang–pangan-papan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Makan minum–pakaian–perumahan merupakan kebutuhan super pokok.
Kebutuhan serentak dari seluruh lapisan pengantin baru itu kemudian mendorong kebutuhan ini dengan sangat kuatnya ke permukaan. Selanjutnya berefek domino ke harga barang-barang yang terkerek naik. Keperluan makan-minum-pakaian masih bisa dimonitor kapasitas produksinya di pabrik sehingga dapat memenuhi kebutuhan.
Namun keperluan perumahan sangat terkait dengan lahan di bumi yang pertumbuhannya (pelebaran kota) dikalahkan oleh pertumbuhan pasangan baru. Untuk itu, harga lahan (tanah) dan rumah selalu bergerak naik karena didorong kebutuhan pengantin baru yang bertumbuh cepat.
Setelah kebutuhan primer itu terpenuhi, masih ada sederet risiko lain yang perlu dilirik seperti kebakaran, kecelakaan, perawatan rumah sakit, dan lainnya. Langkah cukup bijak yang dapat kita lakukan untuk kebutuhan yang tak terduga itu adalah “mengalihkan“ risiko ke pihak lain, dengan asuransi misalnya.
Hidup sang pengantin baru tentu akan lebih tenang karena risiko-risiko tamu tak diundang itu bisa diminimalisir. Tentu saja di balik itu, ada konsekuensi nominal tertentu yang harus dibayar sebagai “biaya hidup tenang“.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Selasa, Oktober 27, 2009
Selasa, Oktober 20, 2009
Menunggu Telepon Presiden
Hari-hari terakhir, mungkin saja pejabat-pejabat negara tidak ingin mematikan ponselnya karena khawatir ditelepon Presiden untuk sebuah tugas suci di kabinet mendatang.
Menjadi sebuah kebanggan jika berhasil terpilih sebagai pembantu presiden untuk masa bakti lima tahun ke depan; yang selama ini menjadi idaman jutaan orang.
Customer is King kembali berlaku. Presiden ibarat pelanggan yang memilih-milih produk. Para calon menteri ibarat produk yang dijejer di etalase. Siapa yang paling menarik, dialah akan terpilih.
Sebagai pelanggan, sang Presiden tentu saja memilih produk berkualitas, produk yang tidak cacat, dan produk yang kualitas brand-nya sudah dikenal. Khusus produk-produk yang tidak pernah mengecewakan sang pelanggan, akan di-repeat order untuk masa pemakaian lima tahun lagi.
Agar mudah diingat di benak konsumen (sang Presiden), produk diharapkan punya nilai lebih. Dia seharusnya tidak seperti produk-produk kebanyakan yang hanya tamatan S1, mengerti komputer, secuil bahasa asing, dan bisa bicara. Produk yang dilirik adalah jebolan dari mesin canggih bersertifikat dan higienis, alumni S2 luar negeri, kuasai perkembangan teknologi, lancar bahasa Inggris, dan punya kemampuan negosiasi.
Saatnya pelanggan berkuasa! Saatnya pembeli unjuk gigi! Saatnya sang Raja menduduki tahta kekuasaan bernama keleluasaan memilih produk berkualitas!
Dalam kapasitas sebagai produk, ia seharusnya tidak sekadar "duduk manis menunggu telepon". Produk juga perlu pro-aktif unjuk sebuah kekuatan nilai jual; mulai kemasan, brand, hingga after sales values.
Pekan lalu, saya berkunjung ke Candi Borobudur di Jawa Tengah. Meski candi itu tidak lagi dikategorikan keajaiban dunia sejak tahun lalu, pengunjung tetap saja ramai. Juga penjual tetap saja padat.
Sadar akan tingginya kompetisi antar pedagang, mereka tidak ingin berlama-lama menunggu panggilan sang Raja (pengunjung). Justru pedagang yang membaca "mata" calon pembeli. Ketika dilihatnya sedang menjejalkan pandangan, pedagang langsung mendekat dan menawarkan barangnya; mulai souvenir hingga jasa pemotretan.
Pro-aktif, salah satu kunci keberhasilan tim pemasar. Dalam kapasitas sebagai Raja, pelanggan tidak punya cukup waktu mencermati produk-produk berkualitas. Sang Raja hanya mengetahui dari brand image yang ditanam selama bertahun-tahun dan informasi-informasi para pembisik (word of mouth marketing).***
Dimuat di Harian Kendari Pos, 19 Oktober 2009
Saran : 0815 2400 4567
Menjadi sebuah kebanggan jika berhasil terpilih sebagai pembantu presiden untuk masa bakti lima tahun ke depan; yang selama ini menjadi idaman jutaan orang.
Customer is King kembali berlaku. Presiden ibarat pelanggan yang memilih-milih produk. Para calon menteri ibarat produk yang dijejer di etalase. Siapa yang paling menarik, dialah akan terpilih.
Sebagai pelanggan, sang Presiden tentu saja memilih produk berkualitas, produk yang tidak cacat, dan produk yang kualitas brand-nya sudah dikenal. Khusus produk-produk yang tidak pernah mengecewakan sang pelanggan, akan di-repeat order untuk masa pemakaian lima tahun lagi.
Agar mudah diingat di benak konsumen (sang Presiden), produk diharapkan punya nilai lebih. Dia seharusnya tidak seperti produk-produk kebanyakan yang hanya tamatan S1, mengerti komputer, secuil bahasa asing, dan bisa bicara. Produk yang dilirik adalah jebolan dari mesin canggih bersertifikat dan higienis, alumni S2 luar negeri, kuasai perkembangan teknologi, lancar bahasa Inggris, dan punya kemampuan negosiasi.
Saatnya pelanggan berkuasa! Saatnya pembeli unjuk gigi! Saatnya sang Raja menduduki tahta kekuasaan bernama keleluasaan memilih produk berkualitas!
Dalam kapasitas sebagai produk, ia seharusnya tidak sekadar "duduk manis menunggu telepon". Produk juga perlu pro-aktif unjuk sebuah kekuatan nilai jual; mulai kemasan, brand, hingga after sales values.
Pekan lalu, saya berkunjung ke Candi Borobudur di Jawa Tengah. Meski candi itu tidak lagi dikategorikan keajaiban dunia sejak tahun lalu, pengunjung tetap saja ramai. Juga penjual tetap saja padat.
Sadar akan tingginya kompetisi antar pedagang, mereka tidak ingin berlama-lama menunggu panggilan sang Raja (pengunjung). Justru pedagang yang membaca "mata" calon pembeli. Ketika dilihatnya sedang menjejalkan pandangan, pedagang langsung mendekat dan menawarkan barangnya; mulai souvenir hingga jasa pemotretan.
Pro-aktif, salah satu kunci keberhasilan tim pemasar. Dalam kapasitas sebagai Raja, pelanggan tidak punya cukup waktu mencermati produk-produk berkualitas. Sang Raja hanya mengetahui dari brand image yang ditanam selama bertahun-tahun dan informasi-informasi para pembisik (word of mouth marketing).***
Dimuat di Harian Kendari Pos, 19 Oktober 2009
Saran : 0815 2400 4567
Langgan:
Entri (Atom)
