Kalau ada ladang paling subur di sebuah industri, maka Ramadhan-lah pilihannya. Hampir semua produk yang dipasarkan laris manis di bulan ini. Pasar seakan lupa krisis ekonomi yang menghantam perekonomian dunia. Derasnya arus jual beli tertutupi oleh model yang lebih trendy dan harga yang lebih murah.
Penjualan terkerek naik bukan hanya pada kebutuhan pokok tetapi juga kebutuhan sekunder seperti handphone, TV, mobil, dan lainnya. Selama sebelas bulan, pedagang dapat merasakan sepinya transaksi namun ia akan merasakan manisnya selama sebulan penuh rahmat dan berkah ini.
Sebelas bulan adalah masa menanam dan sebulan adalah masa panen. Bukan hanya pahala yang berlipat ganda di bulan Ramadhan, tetapi keuntungan juga berlipat ganda bagi pelaku ekonomi.
Pada kondisi pasar yang sangat crowded seperti itu, hukum pasar kembali berlaku bahwa harga melambung akibat permintaan meningkat. Bahkan sebagian konsep pemasaran yang selama ini dijalankan nyaris tidak perlu dipikirkan lagi. Konsumen sendiri akan mencari barang.
Yang terjadi di luar Ramadhan kebanyakan bersifat push (mendorong). Produsen mendorong konsumen membeli produk dengan berbagai argumentasi. Sementara selama Ramadhan, tim pemasar cukup duduk di belakang meja menarik “mata” konsumen. Tiba-tiba menjadi magnet agar mata konsumen tertuju dari balik kerumunan.
Meski begitu, tim pemasar tidak boleh lengah karena masih ada masa-masa panjang setelah Ramadhan berlalu. Agar bisa tetap eksis, sebuah produk perlu dipikirkan secara berkepanjangan dan sustainable.
Rahasia umur panjang dapat dilihat dari implementasi Marketing Mix-nya, yang dalam buku-buku pemasaran selalu dijabarkan dengan konsep 4P (Product, Price, Place, Promotion). Ke-empat sisi P ini sebagai sisi silet yang sedapat mungkin diasah setiap waktu. Makin tajam pisau silet di setiap sisinya, makin kuat posisi kompetisi kita.
Setelah ke-empat sisi tersebut disiapkan secara matang, masih ada satu komponen penentu yang mutlak dipenuhi, yaitu People. Manusia di belakang setir akan menentukan arah kendaraan kita. Secantik apapun mobil mewah yang kita miliki, jika tidak didampingi driver berkualitas, maka kecantikan dan kecanggihannya tidak akan berumur panjang.
People adalah penyempurna Marketing Mix. Ramadhan adalah momentum pembentukan manusia sempurna agar konsep Marketing Mix-nya juga bisa berjalan dengan sempurna.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 1 September 2009
Selasa, September 08, 2009
Minggu, Agustus 23, 2009
Berikan Setetes Karakter!
Malaysia harusnya dikenal lebih agamis dibanding Indonesia. Meski dikenal agamis, Malaysia tahu bahwa ada celah pasar yang berkarakter khusus, yang justru jauh dari sifat agamis. Pencinta dunia hiburan dan perjudian, salah satu segmen pasar yang ingin dimasukinya. Sadar dengan segmen potensial penghasil ringgit besar ini, pihak pemerintah kemudian meng-kavling Genting Highland, sebagai tempat hiburan yang mengakomodir kepentingan seperti itu.
Pertengahan bulan ini, saya menyempatkan diri berkeliling kawasan Genting di Malaysia. Di sana, aneka permainan tersaji untuk memperkuat positioning kota itu sebagai The City of Entertainment. Juga terdapat ribuan manusia tumpah ruah meramaikan lantai kasino dengan berbagai jenis taruhan: mulai kartu remi, koin, tebakan, dan lainnya.
Kota bisnis berpusat di Kuala Lumpur sementara kota hiburan berpusat di Genting. Pengunjunglah yang menentukan pilihan mau mengarahkan langkah ke mana, sisa mengikuti jejak karakter dan keinginan masing-masing.
Konsumen sesungguhnya sangat heterogen. Banyak warna dan keinginan berkecamuk di benak konsumen setiap harinya. Konsumen juga dijejali ribuan informasi mulai bangun tidur hingga tidur kembali melalui beragam kanal, mulai iklan TV, iklan radio, bentangan spanduk, hingga papan billboard.
Dalam kondisi seperti itu, konsumen seakan sebagai supermarket informasi di mana segala hal dapat ditemukannya setiap hari. Meski sebenarnya, konsumen selalu mencari produk-produk yang berkarakter khusus, karena tersadar bahwa kualitas yang lebih baik hanya dapat ditemukan pada produk yang berkarakter.
Sekilas kita melihat, dagangan-dagangan yang digelar based on character terus bertumbuh, seperti karakter kopi (Sturbuck, Kopi Kita, Kopi Daeng Sija, dll), karakter salon (Rudy Hadisuwarno, Nattaya, dll), karakter buku (Gramedia, Kalam Hidup, dll), karakter ayam goreng siap saji (KFC, McD, dll), dan banyak lagi .
Pada kondisi tertentu, konsumen memang akan memilih produk berkarakter. Ketika ingin keindahan pantai, mereka ke Kuta. Ketika ingin keindahan bawah laut, mereka ke Bunaken. Ketika ingin taruhan, mereka ke Genting. Begitulah seterusnya.
Karakter membuat produk yang dipasarakan berbeda dengan yang lain. Sebagaimana manusia, tiap orang punya sifat berbeda-beda. Namun manusia yang punya karakter khususlah yang kemudian melejit dikenal sebagai ahli masak, ahli pijat, ahli renang, ahli montir, ahli dakwah, dan lainnya. Setetes tapi berkarakter jauh lebih baik daripada segelas tapi tak berwarna.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Pertengahan bulan ini, saya menyempatkan diri berkeliling kawasan Genting di Malaysia. Di sana, aneka permainan tersaji untuk memperkuat positioning kota itu sebagai The City of Entertainment. Juga terdapat ribuan manusia tumpah ruah meramaikan lantai kasino dengan berbagai jenis taruhan: mulai kartu remi, koin, tebakan, dan lainnya.
Kota bisnis berpusat di Kuala Lumpur sementara kota hiburan berpusat di Genting. Pengunjunglah yang menentukan pilihan mau mengarahkan langkah ke mana, sisa mengikuti jejak karakter dan keinginan masing-masing.
Konsumen sesungguhnya sangat heterogen. Banyak warna dan keinginan berkecamuk di benak konsumen setiap harinya. Konsumen juga dijejali ribuan informasi mulai bangun tidur hingga tidur kembali melalui beragam kanal, mulai iklan TV, iklan radio, bentangan spanduk, hingga papan billboard.
Dalam kondisi seperti itu, konsumen seakan sebagai supermarket informasi di mana segala hal dapat ditemukannya setiap hari. Meski sebenarnya, konsumen selalu mencari produk-produk yang berkarakter khusus, karena tersadar bahwa kualitas yang lebih baik hanya dapat ditemukan pada produk yang berkarakter.
Sekilas kita melihat, dagangan-dagangan yang digelar based on character terus bertumbuh, seperti karakter kopi (Sturbuck, Kopi Kita, Kopi Daeng Sija, dll), karakter salon (Rudy Hadisuwarno, Nattaya, dll), karakter buku (Gramedia, Kalam Hidup, dll), karakter ayam goreng siap saji (KFC, McD, dll), dan banyak lagi .
Pada kondisi tertentu, konsumen memang akan memilih produk berkarakter. Ketika ingin keindahan pantai, mereka ke Kuta. Ketika ingin keindahan bawah laut, mereka ke Bunaken. Ketika ingin taruhan, mereka ke Genting. Begitulah seterusnya.
Karakter membuat produk yang dipasarakan berbeda dengan yang lain. Sebagaimana manusia, tiap orang punya sifat berbeda-beda. Namun manusia yang punya karakter khususlah yang kemudian melejit dikenal sebagai ahli masak, ahli pijat, ahli renang, ahli montir, ahli dakwah, dan lainnya. Setetes tapi berkarakter jauh lebih baik daripada segelas tapi tak berwarna.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)