Berapa penghasilan kotor per bulan?
Pertanyaan itu selalu terselip di deretan formulir, mulai pengajuan kredit hingga pembukaan rekening padahal kedua transaksi ini berseberangan: mengajukan kredit itu meminjam uang sementara membuka rekening itu meminjamkan uang.
Pekan lalu saya membuka rekening tabungan di BCA. Meski dalam posisi ingin menabung (meminjamkan uang) namun batin saya berkecamuk antara jujur dan tidak jujur saat ditanyakan jumlah penghasilan. Hingga akhirnya saya menentukan pilihan dari salah satu jawaban yang tersedia.
Sekilas, tidak ada salahnya kita lirik cara kerja suatu penelitian yang selama ini berjalan. Sebelum produsen mobil mengeluarkan tipe terbaru, biasanya potensi pasar dijajaki melalui kuesioner. Salah satu pertanyaan ke tiap responden, bukan ”berapa penghasilan” tetapi ”berapa pengeluaran” Anda per bulan.
Dari data pengeluaran tersebut, dibuatlah klasifikasi SES (Status Ekonomi Sosial) secara bertingkat, mulai SES A hingga SES E. Pengeluaran tertinggi berada di SES A dan terendah di SES E.
Manusia, secara naluri lebih berterus terang menyebutkan jumlah pengeluaran dibanding penghasilan. Karena pengeluaran cenderung berbanding lurus dengan penghasilan, maka untuk menemukan data riil di lapangan, menanyakan jumlah ”pengeluaran” lebih mendekati kebenaran dibanding jumlah ”penghasilan”.
Dalam pemasaran dikenal istilah Push Strategy (Strategi Dorong) dan Pull Strategy (Strategi Tarik). Push Strategy “mendorong” konsumen berbelanja sebanyak-banyaknya melalui diskon, perang harga, gratis keanggotaan, dll. Sementara Pull Strategy “menarik” perhatian konsumen terlebih dahulu hingga kemudian memutuskan berbelanja. Lazim dilakukan melalui pameran, penyebaran brosur, placement iklan, dll. Jika strategi ”mendorong” sudah jenuh, selanjutnya dibalik menjadi strategi “menarik”.
Sekitar 6 tahun lalu, Bank Mandiri pernah berhasil “membalik pertanyaan” untuk meningkatkan tabungan nasabah. Setiap penarikan di ATM berkesempatan menang hadiah uang tunai. Semakin sering tarik dana, semakin besar peluang menang.
Trik ini sesungguhnya merangsang nasabah untuk menabung. Meski terdengar iming-iming hadiah kepada yang menarik dana, namun itu bagian dari “membalik pertanyaan”. Bagaimana bisa tarik dana kalau isi tabungannya kosong?
Membalik pertanyaan sesekali diperlukan untuk mencapai tujuan. Mumpung tanggal baru nih, boleh dong numpang tanya: ”berapa pengeluaran Anda bulan lalu”? Heheee....***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group) edisi 2 Maret 2009
Senin, Maret 02, 2009
Minggu, Februari 22, 2009
Membelok di Jalan Lurus
Eva Puspa Dewi, salah satu pramugari ayu Lion Air rute Jakarta - Kendari, menemani penerbangan saya di hari Jumat (20/02/2009) lalu. Penerbangan yang berlangsung 2 jam 50 menit itu, Alhamdulillah berjalan lancar dengan sedikit sekali guncangan di udara.
Belum sebulan, Lion Air melakukan penerbangan langsung Jakarta - Kendari tanpa transit di Makassar. Sebelumnya, penumpang perlu menghabiskan waktu sekitar 4 jam (bahkan lebih) untuk tiba di tujuan karena proses transit di Makassar.
Usai ke toilet belakang pesawat, saya meluangkan waktu berbincang dengan Eva, di area seat pramugari. Cerita cukup panjang. Mulai pengalaman terburuknya di udara selama enam tahun menemani penumpang hingga perbandingan cuaca antara dalam dan luar negeri.
Ada satu pertanyaan saya yang membuat perbincangan makin seru hingga tak terasa hampir 30 menit bersamanya. Pertanyaannya sederhana, ”kenapa dalam penerbangan, waktu tempuh berbeda padahal jaraknya sama?”. Pertanyaan itu mengemuka karena waktu tempuh dari Kendari ke Jakarta dengan pesawat yang sama tiga hari sebelumnya hanya 2 jam 20 menit tetapi ketika melakukan perjalanan pulang dari Jakarta ke Kendari membengkak hingga 2 jam 50 menit. Apa yang salah?
Ternyata, improvisasi pilot juga dikenal di penerbangan. Sebelum take off, sang pilot ”membaca cuaca” dan jalur yang akan dilalui. Jika cuaca kurang bersahabat di jalan lurus, ia menelikung sesaat lalu kembali lagi ke jalur utama.
Setelah ”peta perjalanan” itu dibuat, diketahuilah estimasi waktu tempuh. Lalu diumumkanlah ke penumpang sebelum take off berlangsung. Dengan jarak yang sama, waktu tempuhnya bisa berbeda-beda karena hasil ”pembacaan cuaca” yang juga berbeda.
Garuda Indonesia, terbang ke Kendari mulai 16 Januari lalu. Berita ini sangat menyenangkan bagi traveller kota ini. Dari sisi service on board di jalur penerbangan domestik, Garuda bolehlah menempati urutan teratas. Penyajian makanan di udara, salah satu penyebabnya.
Manajemen Lion Air rupanya tidak kehabisan kreativitas. Mereka juga melakukan ”pembacaan cuaca kompetisi” di rute gemuk ini dengan cermat. Setelah itu, diumumkanlah ”peta kompetisi baru” dengan sedikit improvisasi: penerbangan Kendari - Jakarta pulang pergi tidak perlu transit Makassar.
Meski tidak ada penyajian makanan di udara, namun mereka menciptakan iklim kompetisi baru dengan menjadi satu-satunya penerbangan langsung dari Jakarta tanpa transit. Dalam kasus pemasaran, upaya Lion Air membelok di jalan lurus ini dikenal dengan istilah Blue Ocean Strategy (Strategi Samudera Biru), yaitu strategi menciptakan ruang pasar baru yang tanpa pesaing. Bahkan kompetisi sekalipun menjadi tidak lagi relevan.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com/
Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 23 Februari 2009
Belum sebulan, Lion Air melakukan penerbangan langsung Jakarta - Kendari tanpa transit di Makassar. Sebelumnya, penumpang perlu menghabiskan waktu sekitar 4 jam (bahkan lebih) untuk tiba di tujuan karena proses transit di Makassar.
Usai ke toilet belakang pesawat, saya meluangkan waktu berbincang dengan Eva, di area seat pramugari. Cerita cukup panjang. Mulai pengalaman terburuknya di udara selama enam tahun menemani penumpang hingga perbandingan cuaca antara dalam dan luar negeri.
Ada satu pertanyaan saya yang membuat perbincangan makin seru hingga tak terasa hampir 30 menit bersamanya. Pertanyaannya sederhana, ”kenapa dalam penerbangan, waktu tempuh berbeda padahal jaraknya sama?”. Pertanyaan itu mengemuka karena waktu tempuh dari Kendari ke Jakarta dengan pesawat yang sama tiga hari sebelumnya hanya 2 jam 20 menit tetapi ketika melakukan perjalanan pulang dari Jakarta ke Kendari membengkak hingga 2 jam 50 menit. Apa yang salah?
Ternyata, improvisasi pilot juga dikenal di penerbangan. Sebelum take off, sang pilot ”membaca cuaca” dan jalur yang akan dilalui. Jika cuaca kurang bersahabat di jalan lurus, ia menelikung sesaat lalu kembali lagi ke jalur utama.
Setelah ”peta perjalanan” itu dibuat, diketahuilah estimasi waktu tempuh. Lalu diumumkanlah ke penumpang sebelum take off berlangsung. Dengan jarak yang sama, waktu tempuhnya bisa berbeda-beda karena hasil ”pembacaan cuaca” yang juga berbeda.
Garuda Indonesia, terbang ke Kendari mulai 16 Januari lalu. Berita ini sangat menyenangkan bagi traveller kota ini. Dari sisi service on board di jalur penerbangan domestik, Garuda bolehlah menempati urutan teratas. Penyajian makanan di udara, salah satu penyebabnya.
Manajemen Lion Air rupanya tidak kehabisan kreativitas. Mereka juga melakukan ”pembacaan cuaca kompetisi” di rute gemuk ini dengan cermat. Setelah itu, diumumkanlah ”peta kompetisi baru” dengan sedikit improvisasi: penerbangan Kendari - Jakarta pulang pergi tidak perlu transit Makassar.
Meski tidak ada penyajian makanan di udara, namun mereka menciptakan iklim kompetisi baru dengan menjadi satu-satunya penerbangan langsung dari Jakarta tanpa transit. Dalam kasus pemasaran, upaya Lion Air membelok di jalan lurus ini dikenal dengan istilah Blue Ocean Strategy (Strategi Samudera Biru), yaitu strategi menciptakan ruang pasar baru yang tanpa pesaing. Bahkan kompetisi sekalipun menjadi tidak lagi relevan.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com/
Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 23 Februari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)