Senin, Maret 16, 2009

Demam Instant

Ereke, sebuah kota kecil di Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara. Untuk mencapai kota ini, satu-satunya moda transportasi yang bisa digunakan hanyalah kapal kayu. Itu pun ditempuh selama lima jam setelah berjuang menghalau ombak.

Jangan bayangkan jaringan telepon dan internet di kota kecil itu. Pasokan listrik saja hanya terlayani 12 jam sehari, dari pukul 06:00 sore hari hingga pukul 06:00 di pagi hari. Berada di kota itu (dalam kondisi tidak ada sambungan telepon selular) kita benar-benar merasakan suatu “kebebasan intervensi” dari suara deringan.

Akhir pekan lalu saya menikmati ”kebebasan” itu selama dua hari di sana. Mister Nokia di genggaman seketika membisu. Begitupun si Cerdas Blackberry berpuasa terima email yang selama ini dengan derasnya mengalirkan hingga 300 email setiap harinya.

Saat mendekati sejumlah siswa berpakaian pramuka di pinggir jalan, saya seketika tercengang. Rupanya, mereka memotret wajah Pak Gubernur Nur Alam yang sedang menghadiri acara dengan kamera handphone di tangan.

Saking penasarannya, saya kemudian mengorek informasi ke mereka dan menanyakan berapa banyak siswa di sekolahnya yang punya ”handphone bisu” sekadar untuk berkamera ria.

Jawabnya singkat: 60%!
Wow. Artinya, dari 100 siswa terdapat 60 orang di antaranya punya handphone meski belum ada jaringan selular.

Penelusuran bergeser ke salah satu kantor. Tidak kalah menariknya, ada juga yang punya Blackberry tapi tidak bisa digunakan karena tidak ada jaringan. Padahal, Blackberry lazim digunakan para praktisi, politisi, juga pebisnis untuk kemudahan komunikasi email, internet, instant messaging, hingga untuk telepon dan SMS.

Konon pula kabarnya, beberapa rumah yang belum menikmati pasokan listrik juga punya kulkas. Meski tidak dapat mendinginkan isi kulkas, tetapi mereka tetap menggunakannya sebagai lemari pakaian. Kereeen!

Tidak ada yang perlu disalahkan. Mereka beli handphone dan kulkas juga pakai uang sendiri. Tapi ada sesuatu yang menarik bahwa masyarakat di kota itu sudah ”berkarakter” seharusnya punya handphone dan punya kulkas.

Sama halnya generasi sekarang, termasuk saya. Secara perlahan karakter serba instant melekat di kepribadian kita. Mungkin karena keseringan santap mie instant sehingga segala sesuatu juga diinginkan terjadi secara instant. Produk yang dipasarkan mengikuti pembentukan karakter ini pun menjadi laris. Sebut saja kredit tanpa agunan, masakan siap saji sebangsa Kentucky, ayam potong, obat pelangsing, obat gemuk, penghancur lemak, pemutih pakaian, dan banyak lagi.

Kondisi hari ini, apapun yang dibuat instant selalu laku. Untuk itu, mumpung karakter konsumen berada di level ini, coba telusur produk yang sedang Anda pasarkan. Jika masih ada celah dibuat instant, lakukan secepatnya. Pasar demam instant nih.***

Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com

Senin, Maret 02, 2009

Membalik Pertanyaan

Berapa penghasilan kotor per bulan?
Pertanyaan itu selalu terselip di deretan formulir, mulai pengajuan kredit hingga pembukaan rekening padahal kedua transaksi ini berseberangan: mengajukan kredit itu meminjam uang sementara membuka rekening itu meminjamkan uang.

Pekan lalu saya membuka rekening tabungan di BCA. Meski dalam posisi ingin menabung (meminjamkan uang) namun batin saya berkecamuk antara jujur dan tidak jujur saat ditanyakan jumlah penghasilan. Hingga akhirnya saya menentukan pilihan dari salah satu jawaban yang tersedia.

Sekilas, tidak ada salahnya kita lirik cara kerja suatu penelitian yang selama ini berjalan. Sebelum produsen mobil mengeluarkan tipe terbaru, biasanya potensi pasar dijajaki melalui kuesioner. Salah satu pertanyaan ke tiap responden, bukan ”berapa penghasilan” tetapi ”berapa pengeluaran” Anda per bulan.

Dari data pengeluaran tersebut, dibuatlah klasifikasi SES (Status Ekonomi Sosial) secara bertingkat, mulai SES A hingga SES E. Pengeluaran tertinggi berada di SES A dan terendah di SES E.

Manusia, secara naluri lebih berterus terang menyebutkan jumlah pengeluaran dibanding penghasilan. Karena pengeluaran cenderung berbanding lurus dengan penghasilan, maka untuk menemukan data riil di lapangan, menanyakan jumlah ”pengeluaran” lebih mendekati kebenaran dibanding jumlah ”penghasilan”.

Dalam pemasaran dikenal istilah Push Strategy (Strategi Dorong) dan Pull Strategy (Strategi Tarik). Push Strategy “mendorong” konsumen berbelanja sebanyak-banyaknya melalui diskon, perang harga, gratis keanggotaan, dll. Sementara Pull Strategy “menarik” perhatian konsumen terlebih dahulu hingga kemudian memutuskan berbelanja. Lazim dilakukan melalui pameran, penyebaran brosur, placement iklan, dll. Jika strategi ”mendorong” sudah jenuh, selanjutnya dibalik menjadi strategi “menarik”.

Sekitar 6 tahun lalu, Bank Mandiri pernah berhasil “membalik pertanyaan” untuk meningkatkan tabungan nasabah. Setiap penarikan di ATM berkesempatan menang hadiah uang tunai. Semakin sering tarik dana, semakin besar peluang menang.

Trik ini sesungguhnya merangsang nasabah untuk menabung. Meski terdengar iming-iming hadiah kepada yang menarik dana, namun itu bagian dari “membalik pertanyaan”. Bagaimana bisa tarik dana kalau isi tabungannya kosong?

Membalik pertanyaan sesekali diperlukan untuk mencapai tujuan. Mumpung tanggal baru nih, boleh dong numpang tanya: ”berapa pengeluaran Anda bulan lalu”? Heheee....***


Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com

Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group) edisi 2 Maret 2009