Puluhan stand hadir di pameran akbar yang sedang berlangsung di lapangan MTQ kota Kendari. Penasaran mau melihat apa yang terjadi di pameran itu, saya pun meluangkan waktu seharian berkeliling dari satu stand ke stand lain akhir pekan lalu.
Di stand Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Tenggara, bertengger mesin ukuran medium dengan tulisan di atasnya: Rumah Kemasan. Stand ini ingin menunjukkan proses pengemasan yang higienis, modis, dan sophisticated. Mesin kemas disiapkan untuk memfasilitasi usaha kecil menengah agar belajar melakukan packaging (pengemasan) yang baik.
Makanan sederhana, jika dikemas dengan cantik akan meningkatkan nilai jual. Makanan ringan sebangsa Chiki, Oreo, Taro, Kacang Garuda, bernilai jual tinggi karena packaging-nya yang cantik. Sementara produk lokal seperti Bagea, Tenteng, Terasi, Mete masih bernilai jual rendah karena packaging-nya yang tidak cantik.
Mayoritas pelanggan membeli produk karena melihat kemasan, bukan melihat isinya. Meski pelanggan tahu bahwa isi (content) lebih penting daripada kemasan (context), tetapi saat terjadi transaksi di pasar justru terjadi sebaliknya. Hiruk pikuk pasar seakan ”memaksa” keputusan pelanggan berbelanja karena kemasannya. Penghuni bumi ini secara tidak sadar, sedang hidup di sebuah rumah kemasan.
Apa hebatnya Singapura di banding Indonesia?
Ia tidak punya sumber daya alam seperti Bombana. Negaranya se-upil lebih kecil dari daratan Sulawesi Tenggara. Penduduknya se-ujung kuku, lebih sedikit dari penduduk Sulawesi Selatan. Ia dikenal bukan karena aspal, emas, mete (content) tetapi karena pelayanan primanya (context). Singapore Airlines bahkan membelalakkan mata dunia sebagai the best airlines services in the world.
Apa kelebihan Manado dibanding kota kita?
Pekan lalu saya berkunjung ke Manado. Kotanya yang maju pesat dengan bertaburnya hotel menjulang itu mendapat pengakuan dunia sebagai tuan rumah WOC (World Ocean Conference) bulan depan. Ia juga dikenal dengan 3 B (Bunaken, Bubur, dan Bibir). Hallaakh… jadi ngawur
Apa kelebihan Caleg terpilih dan Caleg tak terpilih?
Pesta demokrasi awal bulan ini sudah mulai melahirkan nama-nama yang lolos seleksi. Kenapa mereka terpilih? Apa yang menggoda masyarakat memilihnya? Bagaimana cara dia meraup suara sebanyak-banyaknya?
Singapura, Manado, dan Caleg menjadi lirikan manusia sekali lagi bukan semata karena ”isinya” tetapi karena ”kemasannya”. Yeah.... kita hidup di rumah kemasan. Siapa yang cerdas membuat kemasan, dialah calon pemenang pasar.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Minggu, April 26, 2009
Minggu, April 19, 2009
Over Expectation
Ada-ada saja cerita lucu di balik pemilihan legislatif baru-baru ini. Mereka yang gagal terpilih secara terang-terangan menunjukkan sikap anehnya. Terdengarlah mantan Caleg yang mengambil kembali bantuan sarung dari warga. Ada pula menyegel sekolah yang telah didirikannya puluhan tahun lalu. Juga karpet bludru pengajian ditarik kembali karena suaranya tidak sesuai yang dibayangkan.
Senyum manis yang terpampang di baliho selama berbulan-bulan, serasa disambar petir berubah jadi senyum kecut. Kemarau setahun dihapus hujan sehari.
Perilaku aneh mantan Caleg di se-antero nusantara, sudah pasti berawal dari sebuah kekecewaan. Mereka yang terlanjur “mengasumsikan” dirinya memperoleh suara banyak namun kenyataannya tidak demikian, berimplikasi pada tingkah aneh dan stress itu.
Berharap dipilih warga miskin melalui titipan sarung, berharap dipilih kelompok guru melalui titipan sekolah binaan, berharap dipilih kelompok pengajian melalui titipan karpet. Kenyataannya, justru jauh di bawah bayang-bayang harapan.
Kondisi ini lazim disebut dengan Over Expectation.
Ibarat produk, saat Caleg memproklamirkan diri untuk dipilih melalui baliho, sesungguhnya dia sedang beriklan. Makin cerdas sebuah produk diiklankan, makin cepat pula dilirik konsumen.
Satu hal yang menarik bahwa kebanyakan Caleg mengasumsikan dirinya dipilih berdasarkan feeling berlabel bantuan. Sementara dalam kasus pemasaran, feeling sama sekali tidak dikenal. Pasar itu butuh angka-angka. Pasar tidak butuh perasaan. Pasar tidak butuh asumsi yang tak berdasar.
Karena itu, dalam organisasi pemasaran kadang dibentuk unit khusus yang berfungsi sebagai marketing inteligent. Tugasnya memantau pergerakan pasar, inovasi kompetitor, dan prospek bisnis keseluruhan. Secara rutin unit tersebut juga melakukan sampling sehingga arah persaingan pasar bisa diprediksi, bahkan jumlah pelanggan di akhir tahun bisa ditebak.
Caleg tidak melakukan seperti ini. Mereka hanya memprediksi berdasarkan feeling. Ketika asumsi feeling meleset jauh, berimbaslah pada tingkah laku aneh dan stress karena kenyataan jauh lebih buruk dari harapannya.
Agar tidak terjadi hal yang sama di pasar terhadap produk yang sedang kita pasarkan, saatnya dipikirkan fungsi kerja marketing inteligent. Salah satu tujuannya, agar tidak terjadi Over Expectation seperti para mantan Caleg yang banyak stress itu.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com/
Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 20 April 2009
Senyum manis yang terpampang di baliho selama berbulan-bulan, serasa disambar petir berubah jadi senyum kecut. Kemarau setahun dihapus hujan sehari.
Perilaku aneh mantan Caleg di se-antero nusantara, sudah pasti berawal dari sebuah kekecewaan. Mereka yang terlanjur “mengasumsikan” dirinya memperoleh suara banyak namun kenyataannya tidak demikian, berimplikasi pada tingkah aneh dan stress itu.
Berharap dipilih warga miskin melalui titipan sarung, berharap dipilih kelompok guru melalui titipan sekolah binaan, berharap dipilih kelompok pengajian melalui titipan karpet. Kenyataannya, justru jauh di bawah bayang-bayang harapan.
Kondisi ini lazim disebut dengan Over Expectation.
Ibarat produk, saat Caleg memproklamirkan diri untuk dipilih melalui baliho, sesungguhnya dia sedang beriklan. Makin cerdas sebuah produk diiklankan, makin cepat pula dilirik konsumen.
Satu hal yang menarik bahwa kebanyakan Caleg mengasumsikan dirinya dipilih berdasarkan feeling berlabel bantuan. Sementara dalam kasus pemasaran, feeling sama sekali tidak dikenal. Pasar itu butuh angka-angka. Pasar tidak butuh perasaan. Pasar tidak butuh asumsi yang tak berdasar.
Karena itu, dalam organisasi pemasaran kadang dibentuk unit khusus yang berfungsi sebagai marketing inteligent. Tugasnya memantau pergerakan pasar, inovasi kompetitor, dan prospek bisnis keseluruhan. Secara rutin unit tersebut juga melakukan sampling sehingga arah persaingan pasar bisa diprediksi, bahkan jumlah pelanggan di akhir tahun bisa ditebak.
Caleg tidak melakukan seperti ini. Mereka hanya memprediksi berdasarkan feeling. Ketika asumsi feeling meleset jauh, berimbaslah pada tingkah laku aneh dan stress karena kenyataan jauh lebih buruk dari harapannya.
Agar tidak terjadi hal yang sama di pasar terhadap produk yang sedang kita pasarkan, saatnya dipikirkan fungsi kerja marketing inteligent. Salah satu tujuannya, agar tidak terjadi Over Expectation seperti para mantan Caleg yang banyak stress itu.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com/
Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 20 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)