Akhir pekan lalu, saya diundang sebagai pembicara pada Konferda WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia) di salah satu hotel berbintang di kota Kendari. Temanya terbilang kompleks karena mengulas krisis global dan dampaknya bagi negeri ini.
Berhubung semua pesertanya ibu-ibu, materi yang terdengar di awang-awang itu dibuat lebih membumi, dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari ibu-ibu rumah tangga yang tahu betul antara besaran penghasilan keluarga dan deretan pengeluaran.
Pasal pertama yang patut diingat bahwa tidak ada pakar dalam krisis. Amerika yang menjadi kiblat perekonomian dunia sekalipun, tidak kuat menahan badai krisis, ditandai dengan dirumahkannya lebih 300 ribu karyawan tahun lalu, yang bahkan tercatat sebagai peristiwa PHK paling tragis dalam 5 tahun terakhir.
Pasal kedua bahwa semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar pula angin menerpa. Amerika yang mempunyai ribuan pakar ekonomi harus rela meratapi rontoknya kekuatan finansial perbankan bahkan yang telah berusia lebih 100 tahun sekalipun. Terdengarlah Merril Lynch, Lehman Brothers, dan Goldman Sachs yang secara bergantian tumbang diterpa badai.
Dalam kondisi yang carut marut seperti itu, jawaban paling tepat bagi mereka saat terjadi krisis adalah ketersediaan dana segar. Cash is King, kata sejumlah pakar. Demikian halnya ibu-ibu, bahwa sekecil apapun penghasilan bulanan dan sebesar apapun badai pengeluaran yang dihadapi, sedapat mungkin tersisa sedikit dana segar sebagai penawar dampak krisis.
Karena menurut konsultan keuangan Safir Senduk, penduduk negeri ini lebih banyak belajar cara memperoleh penghasilan tapi lupa belajar cara mengelola penghasilan. Lebih jauh ia paparkan bahwa terdapat tiga pos pengeluaran terbesar yang selalu terjadi setiap bulan, yaitu biaya telekomunikasi, biaya mengikuti tren pakaian dan elektronik, dan biaya entertaintment.
Dan betul! Dalam kasus-kasus pemasaran, perseteruan seru memang selalu terjadi di tiga titik rawan itu. Perang tarif, perang harga, juga perang persepsi selalu menggeliat di ketiga industri itu. Perhatikan iklan di TV, radio, koran, majalah, juga di media luar ruang sebangsa bando jalan, billboard, baliho, spanduk, umbul-umbul, ataupun poster. Produk apa yang selalu mencuat?
Cukuplah krisis global melanda negeri paman Sam. Sebelum itu tiba di halaman rumah kita, patut diingatkan untuk tidak mudah tergoda rayuan gombal dari ketiga pos itu: telekomunikasi, pakaian dan elektronik, juga entertainment!***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Dimuat di Harian Kendari Pos, 29 September 2009
Jumat, Oktober 02, 2009
Rabu, September 09, 2009
Jadilah "Yang Pertama"
Banyak orang menanti datangnya hari ini, yang serba sembilan. Tanggal sembilan, bulan sembilan, tahun dua ribu sembilan, disingkat 090909. Sejumlah perusahaan memanfaatkan “hari cantik” ini dengan agenda khusus. Hari ini di Makassar dijadwalkan peluncuran Trans Studio, tempat bermain terluas di Asia Tenggara. Di Kendari juga dijadwalkan pembukaan Hotel Horison. Sementara anggota DPR RI, Angelina Sondakh konon kabarnya menjadwalkan kelahiran putra pertamanya juga di hari ini.
Kemungkinan masih sederet lagi agenda lain yang sengaja dikait-kaitkan dengan hari istimewa, 090909. Termasuk hari perkawinan, khitanan, tunangan, atau lainnya. Dari kacamata pemasaran, hari istimewa seperti ini patut diperhatikan, bahkan dianjurkan melakukan sesuatu. Alasannya sederhana, bahwa hari istimewa sangat mudah diingat konsumen bahkan tanpa promosi besar-besaran sekalipun.
Ketika Limbad berdiri di atas tower setinggi 20 meter pada perayaan HUT RCTI ke-20 bulan lalu, ia hanya terpaku dalam diam selama 20 jam. Istri Limbad, Susi dan jutaan pemirsa televisi negeri ini ikut berdebar menyaksikan aksi spektakuler itu hingga akhirnya Limbad mampu melewati aksinya dengan lancar.
Pekan lalu (02/09), berita menghebohkan datang dari negeri jiran. Alain Robert, warga Perancis yang biasa dijuluki manusia Spiderman berhasil memanjat gedung pencakar langit menara kembar Petronas tanpa alat pengaman. Menara setinggi 452 meter dengan 88 lantai itu menjadi salah satu menara tertinggi yang berhasil dipanjat Alain Robert tanpa alat pengaman selain menara Eiffel di Paris, Jembatan Golden Gate di San Fransisco, dan gedung Indosat di Jakarta.
Limbad menjadi orang pertama melakukan puasa sambil berdiri di atas tower selama 20 jam. Alain Robert juga menjadi orang pertama memanjat gedung-gedung tinggi tanpa alat pengaman. Keduanya berusaha selalu menjadi “yang pertama”.
Jack Trout dan Al Ries mencatat sederet anjuran agar bisa menggebrak pasar. Dalam 22 Laws of Marketing-nya, kedua pakar ini mencatatkan pasal pertama anjuran yang perlu diperhatikan adalah The Law of Leadership.
Bahwa untuk bisa menerobos perhatian publik, kita perlu menjadi leader di segmen itu. Kita tidak butuh menjadi yang terbaik. Kita butuh menjadi yang pertama. “It’s better to be first than it is to be better,” katanya.
Tanggal cantik 090909 adalah momentum. Kita perlu mengagendakan untuk membuat sesuatu yang baru di hari istimewa ini. Seperti pesan Trout dan Al Ries, kita butuh menjadi “yang pertama”, bukan “yang terbaik”.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Dimuat di harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 9 September 2009
Kemungkinan masih sederet lagi agenda lain yang sengaja dikait-kaitkan dengan hari istimewa, 090909. Termasuk hari perkawinan, khitanan, tunangan, atau lainnya. Dari kacamata pemasaran, hari istimewa seperti ini patut diperhatikan, bahkan dianjurkan melakukan sesuatu. Alasannya sederhana, bahwa hari istimewa sangat mudah diingat konsumen bahkan tanpa promosi besar-besaran sekalipun.
Ketika Limbad berdiri di atas tower setinggi 20 meter pada perayaan HUT RCTI ke-20 bulan lalu, ia hanya terpaku dalam diam selama 20 jam. Istri Limbad, Susi dan jutaan pemirsa televisi negeri ini ikut berdebar menyaksikan aksi spektakuler itu hingga akhirnya Limbad mampu melewati aksinya dengan lancar.
Pekan lalu (02/09), berita menghebohkan datang dari negeri jiran. Alain Robert, warga Perancis yang biasa dijuluki manusia Spiderman berhasil memanjat gedung pencakar langit menara kembar Petronas tanpa alat pengaman. Menara setinggi 452 meter dengan 88 lantai itu menjadi salah satu menara tertinggi yang berhasil dipanjat Alain Robert tanpa alat pengaman selain menara Eiffel di Paris, Jembatan Golden Gate di San Fransisco, dan gedung Indosat di Jakarta.
Limbad menjadi orang pertama melakukan puasa sambil berdiri di atas tower selama 20 jam. Alain Robert juga menjadi orang pertama memanjat gedung-gedung tinggi tanpa alat pengaman. Keduanya berusaha selalu menjadi “yang pertama”.
Jack Trout dan Al Ries mencatat sederet anjuran agar bisa menggebrak pasar. Dalam 22 Laws of Marketing-nya, kedua pakar ini mencatatkan pasal pertama anjuran yang perlu diperhatikan adalah The Law of Leadership.
Bahwa untuk bisa menerobos perhatian publik, kita perlu menjadi leader di segmen itu. Kita tidak butuh menjadi yang terbaik. Kita butuh menjadi yang pertama. “It’s better to be first than it is to be better,” katanya.
Tanggal cantik 090909 adalah momentum. Kita perlu mengagendakan untuk membuat sesuatu yang baru di hari istimewa ini. Seperti pesan Trout dan Al Ries, kita butuh menjadi “yang pertama”, bukan “yang terbaik”.***
Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com
Dimuat di harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 9 September 2009
Langganan:
Postingan (Atom)