Minggu, April 19, 2009

Over Expectation

Ada-ada saja cerita lucu di balik pemilihan legislatif baru-baru ini. Mereka yang gagal terpilih secara terang-terangan menunjukkan sikap anehnya. Terdengarlah mantan Caleg yang mengambil kembali bantuan sarung dari warga. Ada pula menyegel sekolah yang telah didirikannya puluhan tahun lalu. Juga karpet bludru pengajian ditarik kembali karena suaranya tidak sesuai yang dibayangkan.

Senyum manis yang terpampang di baliho selama berbulan-bulan, serasa disambar petir berubah jadi senyum kecut. Kemarau setahun dihapus hujan sehari.

Perilaku aneh mantan Caleg di se-antero nusantara, sudah pasti berawal dari sebuah kekecewaan. Mereka yang terlanjur “mengasumsikan” dirinya memperoleh suara banyak namun kenyataannya tidak demikian, berimplikasi pada tingkah aneh dan stress itu.

Berharap dipilih warga miskin melalui titipan sarung, berharap dipilih kelompok guru melalui titipan sekolah binaan, berharap dipilih kelompok pengajian melalui titipan karpet. Kenyataannya, justru jauh di bawah bayang-bayang harapan.

Kondisi ini lazim disebut dengan Over Expectation.
Ibarat produk, saat Caleg memproklamirkan diri untuk dipilih melalui baliho, sesungguhnya dia sedang beriklan. Makin cerdas sebuah produk diiklankan, makin cepat pula dilirik konsumen.

Satu hal yang menarik bahwa kebanyakan Caleg mengasumsikan dirinya dipilih berdasarkan feeling berlabel bantuan. Sementara dalam kasus pemasaran, feeling sama sekali tidak dikenal. Pasar itu butuh angka-angka. Pasar tidak butuh perasaan. Pasar tidak butuh asumsi yang tak berdasar.

Karena itu, dalam organisasi pemasaran kadang dibentuk unit khusus yang berfungsi sebagai marketing inteligent. Tugasnya memantau pergerakan pasar, inovasi kompetitor, dan prospek bisnis keseluruhan. Secara rutin unit tersebut juga melakukan sampling sehingga arah persaingan pasar bisa diprediksi, bahkan jumlah pelanggan di akhir tahun bisa ditebak.

Caleg tidak melakukan seperti ini. Mereka hanya memprediksi berdasarkan feeling. Ketika asumsi feeling meleset jauh, berimbaslah pada tingkah laku aneh dan stress karena kenyataan jauh lebih buruk dari harapannya.

Agar tidak terjadi hal yang sama di pasar terhadap produk yang sedang kita pasarkan, saatnya dipikirkan fungsi kerja marketing inteligent. Salah satu tujuannya, agar tidak terjadi Over Expectation seperti para mantan Caleg yang banyak stress itu.***


Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com/
Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 20 April 2009

Minggu, April 12, 2009

Back to Zero

Tidak sedikit pembaca kolom ini menanyakan tulisan saya yang tidak terbit dua pekan terakhir. Sengaja saya tidak menulis, selain karena padatnya ruang halaman oleh iklan partai, juga dikarenakan konsentrasi pembaca (tampaknya) lebih banyak tersedot ke wacana-wacana politik.

Pekan lalu, pesta demokrasi baru saja usai. Tentu saja, ada menang ada kalah. Ibarat sebuah pameran akbar, setiap Caleg membuat stand pameran dan berharap ada yang datang berkunjung. Berbagai cara dilakukan untuk menarik simpati pengunjung, mulai senyum tulus hingga program-program jangka panjangnya.

Usai pameran digelar, bagi yang banyak dikunjungi menerima ucapan selamat. Sementara yang kurang dikunjungi kembali mengevaluasi diri, merenung, bahkan mungkin stress.

Back to zero.
Setelah gagal di pameran akbar, para Caleg kembali berpikir dari titik nol untuk pameran-pemeran lain berikutnya. Seharusnya, ini bukan sebuah kegagalan karena sesungguhnya tidak ada yang gagal dalam kehidupan ini. Yang ada hanya orang-orang yang berhenti mencoba. Begitu kata orang bijak.

Dalam kasus-kasus pemasaran kondisi seperti ini sangat sering ditemukan. Produk melimpah di pasar dengan berbagai merek. Dalam waktu tertentu setelah periode penjualan dan ternyata tidak mencapai target, apa yang dilakukan kemudian?

Salah satunya adalah memberi ”rasa” pada produk yang dipasarkan. Boleh berarti harga lebih murah, varian lebih banyak, garansi lebih lama, dan seterusnya. Karena untuk dilirik konsumen, produk yang dipasarakan sepatutnya punya keunikan dibanding yang lain. Konsumen selalu lebih tertarik pada barang yang punya nilai lebih.

Kembali ke Caleg. Bagi yang belum berhasil mendapat suara terbanyak, kesempatan masih terbuka lebar dan pasar masih terlentang luas. Produk yang tidak laku di suatu pasar, bukan jaminan tidak laku pula di pasar lain. Dunia belum kiamat, Bung!

Tidak sedikit orang sukses justru lahir dari pengalaman sebagai orang gagal. Motivator Andre Wongso (Sekolah Dasar tidak tamat), Pemilik Primagama Purdi Chandra (berhenti kuliah di UGM), Orang Kaya Dunia Bill Gates (tidak tamat kuliah di Harvard University), dan banyak lagi.

Manusia ataupun produk yang kembali ke titik nol, tidak selamanya berarti murka. Mungkin itu adalah berkah. Justru karena berada di titik nol, maka jutaan titik lainnya dapat kita lihat dengan lapang. Tugas kita adalah menyiasati kesempitan menjadi sebuah kesempatan.***


Saran SMS: 0815 2400 4567 atau Blog: http://hilmineng.blogspot.com/

Dimuat di Harian Kendari Pos (Jawa Pos Group), 13 April 2009